Sebuah studi terbaru oleh Accenture menunjukkan bahwa eksekutif asuransi siap untuk secara signifikan meningkatkan investasi mereka dalam kecerdasan buatan (AI) selama tahun depan, dengan 90% eksekutif senior yang disurvei menyatakan niat mereka untuk mengalokasikan lebih banyak dana untuk inisiatif AI. Survei ini, yang mencakup tanggapan dari 3.650 pemimpin C-suite di berbagai industri dan negara, menyoroti keyakinan yang berkembang di antara pemimpin asuransi bahwa AI terutama adalah alat untuk pertumbuhan pendapatan daripada sekadar langkah penghematan biaya.
Meskipun ada optimisme seputar investasi AI, penelitian ini mengungkapkan adanya kesenjangan keterampilan yang signifikan di dalam sektor asuransi. Sekitar 35% pemimpin mengakui bahwa mencapai kemajuan yang berarti dengan AI tergantung pada perbaikan strategi data inti dan kemampuan digital. Dengan mengkhawatirkan, 54% karyawan melaporkan bahwa keluaran AI yang berkualitas buruk menghambat produktivitas, yang mengakibatkan pemborosan waktu dan usaha.
Temuan dari survei Pulse of Change menunjukkan adanya transisi dalam adopsi AI, bergerak dari fase eksperimental ke implementasi organisasi yang lebih luas. Saat ini, 34% perusahaan asuransi menerapkan agen AI di berbagai fungsi, menunjukkan pergeseran menuju penggunaan operasional daripada percobaan terpisah. Selain itu, hampir sepertiga pemimpin senior secara aktif menggunakan AI generatif, menekankan pengaruhnya yang semakin besar pada pengambilan keputusan strategis dan alur kerja.
Namun, meskipun banyak organisasi mengintegrasikan AI ke dalam proses mereka, kurang dari 10% yang menyesuaikan peran karyawan untuk sejalan dengan perubahan ini. Hal ini membuat banyak pekerja merasa tidak siap, dengan hanya 40% yang menyatakan bahwa pelatihan mereka telah mempersiapkan mereka dengan baik untuk tanggung jawab baru terkait AI. Survei juga mencatat penurunan dalam penggunaan AI secara reguler di antara karyawan, menunjukkan bahwa perusahaan perlu memikirkan kembali peran pekerjaan, insentif, dan program pelatihan untuk mendorong tenaga kerja yang lebih percaya diri.
Meskipun ada kekhawatiran tentang kemungkinan gelembung AI, eksekutif asuransi tetap optimis tentang masa depan. Sebagian besar dari mereka menunjukkan bahwa mereka akan meningkatkan pengeluaran untuk AI bahkan jika gelembung tersebut pecah. Namun, survei ini menyoroti adanya ketidakcocokan antara kepemimpinan dan karyawan mengenai keamanan pekerjaan dan kesiapan untuk gangguan teknologi. Sementara dua pertiga eksekutif memprioritaskan investasi dalam teknologi digital, hanya 29% pekerja asuransi yang merasa percaya diri dengan kemampuan perusahaan mereka untuk menghadapi tantangan ekonomi. Laporan Accenture menekankan bahwa tantangan sebenarnya terletak bukan pada teknologi itu sendiri, tetapi pada memastikan karyawan terlibat dan siap untuk bekerja bersama AI.