Bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan tanpa komitmen pelatih pribadi, Pelatih Kesehatan AI baru dari Google di aplikasi Fitbit menawarkan sebuah opsi. Fitur ini, bagian dari langganan Fitbit Premium seharga $10/bulan, saat ini dalam prabuka publik. Penulis, yang juga seorang pelatih untuk program lari pemuda, memutuskan untuk menguji Pelatih AI selama tiga minggu sambil mempersiapkan lomba 5K. Meskipun semangat awal, mereka menghadapi umpan balik sosial yang menunjukkan bahwa berinteraksi dengan orang nyata mungkin lebih berharga daripada berbicara dengan komputer.
Untuk mengakses Prabuka Publik Fitbit, pengguna harus memenuhi kriteria tertentu, termasuk menjadi pelanggan Fitbit Premium, memiliki ponsel Android dengan sistem operasi terbaru, dan tinggal di AS. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk beralih antara prabuka dan versi reguler, yang saat ini tidak memiliki beberapa fitur penting seperti pencatatan kesehatan menstruasi dan metrik lari lanjutan. Penulis menggunakan layanan ini dengan Pixel Watch 4 dan menyatakan optimisme tentang potensi Pelatih AI untuk memberikan panduan yang lebih personal dan fleksibel dibandingkan penawaran sebelumnya.
Pengalaman awal dengan Pelatih AI campur aduk. Program ini salah mengartikan aktivitas penulis, menyarankan latihan yang tidak sesuai dengan jadwal mereka yang sebenarnya. Meskipun aplikasi ini memungkinkan pelacakan langsung latihan, penulis lebih suka menyinkronkan latihan yang telah selesai kemudian, merasa pelacakan langsung itu menegangkan. Rekomendasi Pelatih AI didasarkan pada kuesioner tentang tujuan kebugaran dan peralatan yang tersedia, tetapi penulis mencatat bahwa berlari sering kali memerlukan pengambilan keputusan yang nuansial yang sulit diakomodasi oleh AI.
Seiring berjalannya waktu, penulis mulai melihat perbaikan dalam regimen latihan mereka. Pelatih AI beradaptasi dengan rutinitas mereka, menyarankan latihan yang melengkapi aktivitas yang sudah ada seperti yoga dan panjat tebing. Namun, penulis merasa tidak nyaman membagikan detail kesehatan pribadi dengan entitas korporat, menimbulkan kekhawatiran tentang privasi dan penggunaan data. Ketidaknyamanan ini semakin diperparah oleh teman-teman dan keluarga yang memperhatikan ketergantungan penulis yang semakin besar pada Pelatih AI, yang mengarah pada komentar lucu namun tajam tentang perlunya interaksi manusia.
Akhirnya, meskipun Pelatih Kesehatan AI menawarkan cara yang nyaman untuk mengelola tujuan kebugaran, penulis menyimpulkan bahwa koneksi dan umpan balik nyata dari teman-teman dan sesama pelari tidak tergantikan. Pengalaman ini menyoroti pentingnya komunitas dalam menjaga motivasi dan akuntabilitas dalam kebugaran, menunjukkan bahwa meskipun teknologi dapat membantu, itu tidak boleh menggantikan hubungan manusia yang tulus dalam mengejar kesehatan dan kesejahteraan.