Pada hari Senin, seorang karyawan Google DeepMind mengungkapkan kekhawatiran di papan pesan internal tentang keselamatan staf dari Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) menyusul insiden kekerasan terbaru yang melibatkan agen federal. Karyawan tersebut mempertanyakan langkah-langkah apa yang diambil perusahaan untuk melindungi tenaga kerjanya, terutama mengingat taktik tak terduga yang digunakan oleh lembaga pemerintah. Pesan ini mendapat respons positif dari banyak rekan kerja, dengan lebih dari 20 reaksi dukungan.
Meskipun situasinya mendesak, tidak ada tanggapan yang diberikan oleh para pemimpin senior di Google, termasuk CEO Sundar Pichai dan CEO DeepMind Demis Hassabis, terkait kekhawatiran karyawan tersebut atau pembunuhan perawat Alex Pretti oleh agen federal baru-baru ini. Keheningan ini telah menyoroti semakin besarnya jurang antara karyawan teknologi dan eksekutif mereka terkait kebijakan imigrasi pemerintah.
Jeff Dean, kepala ilmuwan Google DeepMind, secara terbuka mengkritik ICE, menyebut peristiwa terbaru sebagai "sangat memalukan". Sikapnya mencerminkan sentimen yang lebih luas di antara pekerja teknologi yang semakin vokal tentang ketidaknyamanan mereka terhadap tindakan pemerintah federal, terutama terkait penegakan imigrasi.
Kekhawatiran tentang keberadaan ICE di Google tidaklah tanpa dasar. Sebuah pesan internal terpisah mengungkapkan bahwa seorang agen federal telah mencoba memasuki kantor Cambridge tanpa surat perintah, yang memicu respons dari tim keamanan Google, yang mengonfirmasi bahwa agen tersebut ditolak masuk dan segera pergi.
Sebagai pemberi kerja utama bagi pekerja asing terampil, Google, bersama dengan perusahaan Silicon Valley lainnya, harus menavigasi kompleksitas kebijakan imigrasi pemerintahan Trump. Sementara beberapa pemimpin teknologi telah membela program visa, banyak yang tetap diam tentang tindakan pemerintah baru-baru ini terhadap imigran. Secara khusus, salah satu pendiri Anthropic mengungkapkan ketakutan atas insiden tersebut, menunjukkan adanya perbedaan pendapat publik yang jarang terjadi di antara eksekutif teknologi terkait operasi ICE.