Banyak perusahaan menemukan bahwa implementasi awal AI tidak selalu berada pada aplikasi yang berhadapan dengan pelanggan, melainkan di dalam operasi internal mereka. Sumber daya manusia (SDM) muncul sebagai area utama untuk integrasi AI karena alur kerja yang terstruktur dan kebutuhan penanganan data yang substansial. Perusahaan telekomunikasi e& memimpin langkah ini dengan mengalihkan operasi SDM-nya ke model berbasis AI, yang akan mempengaruhi sekitar 10.000 karyawan. Inisiatif ini didukung oleh Oracle Fusion Cloud Human Capital Management (HCM) dalam infrastruktur Oracle Cloud yang khusus.

Transformasi ini berfokus pada rekayasa ulang proses SDM daripada sekadar menambahkan fitur AI. Alat otomatis diharapkan dapat memperlancar rekrutmen, penjadwalan wawancara, dan rekomendasi pelatihan karyawan. Tujuannya adalah untuk menstandarisasi praktik SDM di berbagai wilayah sambil memungkinkan manajer mengakses data dan wawasan tenaga kerja dengan lebih cepat.

Dari perspektif bisnis, SDM adalah titik awal yang ideal untuk adopsi AI. Banyak tugas SDM yang bersifat repetitif, seperti pencocokan kandidat dan orientasi, yang menghasilkan data konsisten yang dapat dengan mudah dimodelkan dan diotomatisasi. Dengan menerapkan AI di area ini, perusahaan dapat menilai keandalan dan tata kelola dalam pengaturan yang terkontrol sebelum menjelajahi aplikasi yang lebih kompleks.

Pemilihan infrastruktur juga menyoroti keseimbangan antara inovasi dan kepatuhan. Oracle menegaskan bahwa sistemnya dirancang untuk memenuhi kedaulatan data dan standar regulasi, yang sangat penting bagi perusahaan multinasional. Mengelola data tenaga kerja melibatkan navigasi hukum privasi dan tata kelola perusahaan, sehingga penting bagi organisasi untuk mengurangi risiko sambil menjelajahi otomatisasi.

Peluncuran di e& mencerminkan tren yang lebih luas dalam adopsi AI perusahaan, di mana perubahan internal sering kali lebih layak daripada inovasi eksternal. Sementara sistem AI yang berhadapan dengan pelanggan dapat berisiko, platform SDM beroperasi di belakang layar, membuatnya lebih mudah untuk memantau dan memperbaiki kesalahan. Penelitian dari Deloitte menunjukkan bahwa organisasi semakin memindahkan proyek AI dari fase percobaan ke produksi skala penuh, terutama dalam proses administratif dan operasional. Seiring perusahaan terus mencari jalur berisiko rendah untuk integrasi AI, operasi tenaga kerja kemungkinan akan tetap menjadi fokus karena sifatnya yang terstruktur dan potensi hasil yang terukur.