Di Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia di Shanghai, berbagai robot humanoid memamerkan kemampuan mereka, mulai dari menari hingga bertinju. Acara ini menyoroti perbedaan antara lanskap AI di China dan di Barat, dengan kota yang ramai dengan teknologi canggih dan produk inovatif. Mengamati robot-robot tersebut, menjadi jelas bahwa meskipun mereka dapat melakukan rutinitas yang mengesankan, mereka masih sangat bergantung pada operator manusia untuk arahan dan kontrol.

Para ahli memprediksi bahwa robot humanoid akan berdampak signifikan pada tenaga kerja, dengan perusahaan seperti Amazon menjajaki penggunaan mereka untuk menggantikan pekerja manusia. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2035, pasar global untuk robot humanoid dapat mencapai 10 juta unit per tahun, dengan China diharapkan mendominasi sektor ini. Unitree, sebuah perusahaan robotika terkemuka yang berbasis di Hangzhou, berada di garis depan gerakan ini, menawarkan robot yang terjangkau dan sangat mampu yang mengungguli banyak pesaing.

CEO Unitree, Wang Xingxing, memiliki rencana ambisius untuk masa depan robotika, bertujuan untuk mengembangkan robot yang dapat melakukan berbagai tugas, mulai dari menyajikan teh hingga bekerja di pabrik. Perjalanannya ke dunia robotika dimulai di masa kuliahnya, dan sejak itu ia telah mendirikan Unitree sebagai pemain signifikan di pasar, dengan penjualan yang meroket dalam beberapa tahun terakhir. Pendekatan inovatif perusahaan dan manufaktur yang hemat biaya telah memungkinkan mereka untuk berkembang, meskipun menghadapi persaingan dari lebih dari 200 perusahaan China lainnya di sektor humanoid.

Meskipun kemajuan yang cepat, tantangan tetap ada. Banyak robot masih kurang ketangkasan, membatasi kemampuan mereka untuk melakukan tugas-tugas kompleks. Para peneliti sedang bekerja untuk mengintegrasikan model bahasa dengan sistem robotik untuk meningkatkan fungsionalitas mereka, tetapi teknologi ini masih dalam tahap awal. Kebutuhan akan data dan perangkat keras yang lebih baik yang meniru kemampuan manusia sangat penting untuk kesuksesan masa depan robot humanoid.

Saat persaingan semakin ketat, kekhawatiran muncul tentang industri robotika AS yang mengikuti perkembangan cepat China. Beberapa ahli menyarankan bahwa perusahaan AS mungkin perlu mengadopsi strategi yang mirip dengan perusahaan China, termasuk berinvestasi dalam manufaktur canggih dan memanfaatkan bakat lokal. Meskipun robot membuat kemajuan di berbagai sektor, kenyataannya tetap bahwa pekerja manusia masih sangat penting, seperti yang terlihat selama kunjungan penulis ke sebuah hotel di Beijing, di mana staf manusia memberikan layanan yang belum dapat direplikasi secara efektif oleh robot.